Siklus Waktu Karya : Jean Pierre/XII IPS 1 SMA Virgo Fidelis Bawen
Siklus Waktu
Karya : Jean Pierre/XII IPS 1
SMA Virgo Fidelis Bawen
Dalam kehidupan kita, semua hanyalah tentang waktu yang terus berjalan. Hari demi hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, semua tidak bisa terlepas dari sebuah garis waktu. Namaku Jean Pierre, orang-orang memanggilku dengan panggilan Jipi. Aku lahir di Salatiga tahun 2002, tepatnya lebih dari 18 tahun lalu aku dilahirkan. Dulu, nenekku pernah mengatakan bahwa semua orang pasti memiliki cerita masing-masing dalam kehidupannya, begitu juga denganku. Selama delapan belas tahun ini aku selalu merenungkan, bahwa kehidupan yang ku jalani ini, penuh sekali dengan kisah-kisah yang menarik. Canda tawa, suka duka, menghibur dan dihibur, menyakiti dan disakiti, menangis dan menangisi, semua pengalaman sudah pernah terjadi dan aku lalui selama 18 tahun lebih ini. Cerita semua orang itu unik, begitulah kata salah seorang sahabatku.
Ceritaku yang unik ini berawal sejak tahun 2005, tahun dimana aku yang masih kecil dan mempunyai teman baik untuk pertama kalinya. Namanya Albert dan Sella, mereka adalah teman pertamaku saat aku masih kecil. Orang tua kami saling mengenal satu sama lain sehingga aku dipertemukan dengan dua temanku tersebut. Saat itu usiaku baru 3 tahun dan tahun 2005 bulan Juli adalah tahun dimana aku akan mulai masuk ke sekolah PAUD, sebelumnya aku berpikir bahwa aku akan memiliki teman saat masuk sekolah PAUD nanti, tapi ternyata sekitar 2 bulan sebelumnya aku sudah memiliki teman terlebih dahulu. Awal aku bertemu dengan Albert dan Sella ini ketika orang tua kami berkumpul untuk membicarakan masalah kerja. Saat itu aku adalah anak kecil yang pemalu ketika diminta orang tua untuk berkenalan, lalu aku beranikan diriku untuk berkenalan karena orang tuaku mengatakan
"sudah mau masuk sekolah, kok malu kenalan sama temen. Besok disekolah gimana?"
Setelah berkenalan, Albert dan Sella pun mengajakku untuk bermain, setelah bermain cukup lama dan kami saling mengenal satu sama lain, akhirnya orang tua kami masing-masing mengajak kami untuk pulang. Setelah hari itu, kami bertiga selalu bermain bersama di saat hari libur dan kami selalu bermain di salah satu rumah di antara kami bertiga, kami selalu bergantian karena diantara rumah kami bertiga jaraknya jauh-jauh. Kami dari kecil selalu main bersama sampai kami remaja, akhirnya kami bertiga menjadi sahabat dan mereka berdua adalah teman pertama sekaligus sahabat pertama dalam cerita hidupku.
Sampailah di bulan Juli, bulan dimana aku mulai bersekolah di jenjang pendidikan PAUD. Kedua sahabatku, Albert dan Sella tidak satu sekolah dengan ku, mereka sekolah ditempat yang berbeda. Awal saat aku masuk sekolah, aku tidak mengenal satu orang pun di dalam kelas, sifatku yang pemalu ini membuatku menjadi sulit berkenalan dengan teman di kelasku. Namun sekitar dua hari kemudian, aku sudah bisa mengenal semua temanku di kelas. Aku berpikir kalau aku tidak mau kenalan dengan teman di kelasku, aku tidak akan punya teman, maka aku pun harus berani untuk berkenalan dengan teman-teman dikelasku. Saat itu, teman yang pertama aku ajak berkenalan namanya Ale.
"Halo namaku Jipi, kamu siapa?" Begitulah aku memulai perkenalan di awal.
"Aku Ale." Jawabnya.
Ternyata orang tua Ale ini, juga teman baik dari ayahku dan aku pun sempat mengira, jangan-jangan orang tua dari semua teman di kelasku itu adalah teman dari orang tuaku juga. Namun ternyata tidak. Seiring berjalannya waktu, kami sering bermain bersama, bukan hanya saat awal masuk ke kelas ataupun pulang sekolah saat menunggu orang tua kami menjemput, tetapi juga saat kami tidak berada di sekolah, saat main ke rumah salah satu dari kami.
Tiga tahun telah berlalu dan akhirnya tibalah saat dimana beberapa dari kami harus berpisah sekolah karena akan bersekolah di jenjang pendidikan sekolah dasar yang berbeda sesuai dengan arahan orang tua kami masing-masing. Tempat kami bersekolah dulu, memiliki jenjang pendidikan mulai dari PAUD sampai Sekolah Dasar. Beberapa dari kami ada yang melanjutkan ke SD yang satu lingkungan dengan TK kami, namun banyak juga yang melanjutkan di tempat yang lain.
Saat masuk ke jenjang pendidikan Sekolah Dasar untuk pertama kali, aku merasakan bahwa masuk sekolah dasar rasanya biasa saja, tidak seperti saat masuk sekolah pertama kali sewaktu PAUD karena aku sudah mempunyai teman sejak PAUD dan saat itu melanjutkan ke SD yang sama. Saat pertama kali aku agak terkejut, karena jumlah kami dalam satu kelas mencapai 48 siswa. Dulu saat di PAUD dan TK, jumlah kami di kelas hanya 30 anak. Aku semakin memiliki teman yang banyak, dan semenjak berada di SD aku tidak menjadi anak kecil yang pemalu lagi. Kehidupan awalku saat masih disekolah dasar sangat menyenangkan. Memiliki banyak teman, lebih banyak bermain dengan teman daripada belajar, mengunjungi ke salah satu rumah teman, dan masih banyak hal lagi yang menyenangkan bagiku saat itu. Aku merasa semua itu sangat menyenangkan.
Kisah yang aku jalani bersama teman- teman SD-ku hanya sebentar saja, karena saat berada di kelas 2 SD dilibur akhir tahun, aku bersama keluargaku pergi ke negara tetangga yaitu Malaysia. Awalnya aku merasa senang karena aku bisa memiliki pengalaman berlibur ke luar negeri, namun ternyata aku menghabiskan waktuku di luar negeri selama satu tahun. Saat awal aku menjalani kehidupan satu tahun di luar negeri, aku merasa sedih dan kehilangan teman-temanku di SD, karena aku harus putus sekolah dan melanjutkan sekolah tahun depan dengan angkatan dan teman yang berbeda. Namun lama-lama, berada di Malaysia bagiku cukup menyenangkan. Karena saat itu aku masih berumur 7 tahun dan sudah menjadi hal yang biasa bagi anak kecil jika mereka lebih senang ketika tidak sekolah dan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan bermain, seperti yang kulakukan di Malaysia.
Saat berada di Malaysia selama satu tahun, aku memiliki banyak pengalaman yang menyenangkan tapi juga ada yang kurang menyenangkan. Hal yang kurang menyenangkan bagiku hanya masalah berkomunikasi dengan orang-orang disekitar apartemen tempat tinggal keluargaku. Bahasa yang digunakan warga sekitar cenderung menggunakan bahasa Mandarin. Suatu hari, ibuku pernah memintaku untuk pergi ke toko kecil, kalau di Indonesia yaitu warung. Ibuku memintaku untuk membeli roti dan beberapa minuman soda. Sebelum memasuki toko itu, aku merasa kebingungan karena aku harus berbicara dengan bahasa apa. Akhirnya aku menjadi teringat serial kartun Malaysia yang populer di Indonesia, yaitu Upin dan Ipin. Aku memutuskan untuk menirukan bahasa yang digunakan tokoh kartun tersebut karena bahasa sebagian besar warga Malaysia yaitu bahasa Melayu. Saat aku memasuki toko tersebut, aku langsung membuka kulkas yang berisikan minuman soda dan aku mengambil 3 buah minuman soda untuk dirumah. Setelah itu aku langsung mencari roti, namun aku menjumpai kesusahan. Ibuku memintaku untuk membeli roti yang harganya murah, namun saat aku melihat-lihat, harga yang tertera tentu saja dengan nominal mata uang Malaysia yang pada saat itu aku tidak tahu besaran jumlah uang yang aku bawa dan nominal harga roti ditoko itu. Karena aku berdiri agak lama, akhirnya penjaga kasir toko itu mendatangiku dan menanyakan sesuatu padaku yang aku tidak faham artinya karena menggunakan bahasa Mandarin.
Kasir itu menanyakanku sebuah pertanyaan dengan bahasa Mandarin yang jika ku kira-kira bahwa dia menanyakan kepadaku, mau beli apa mungkin. Lantas aku pun menjawab
"maaf cik, saye tak faham.", jawabku. Lantas petugas kasir itu langsung mengatakan.
"Awak ni budak mana kah?"
"Saye orang Indonesia, saye kak sini hanya liburan je." Begitulah tuturku pada petugas kasir itu sesuai dengan gaya bahasa yang dipakai tokoh kartun Upin dan Ipin. Lalu petugas kasir itu bertanya, "awak nak beli ape?" Dan aku mengatakan bahwa aku ingin membeli roti. Lalu petugas kasir itu memberikan roti yang aku tidak tahu nominalnya lalu aku langsung membayar semua barang yang aku beli di toko itu. Masih banyak lagi pengalaman kurang mengenakkan saat berada di Malaysia.
Satu tahun telah berlalu, lalu aku dan keluargaku pulang ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, aku dihadapkan pertanyaan oleh kedua orang tuaku. Mereka menanyakan aku mau sekolah di tempat yang sama atau mau pindah saja. Lalu aku langsung menjawab bahwa aku ingin pindah sekolah saja karena aku sudah tertinggal kelas dari teman-temanku sebelumnya, lalu kedua orang tuaku menurutiku. Di SD yang baru, aku harus memulai lagi pendidikan dikelas 2 SD yang tidak selesai dan aku harus beradaptasi ditempat yang baru dan teman yang baru. Lima tahun waktu yang aku jalani di SD rasanya sangat berbeda saat aku masih sekolah di SD ku sebelumnya. Teman-teman SD ku cenderung adalah anak yang nakal dan malas sampai aku terpengaruh oleh mereka dan masa SD ku cukup kurang menyenangkan karena aku menjadi pribadi yang kurang baik selama awal aku di sekolah yang baru. Saat kenaikan kelas empat SD ke kelas lima SD, aku memutuskan untuk bisa terlibat dalam kegiatan pelayanan di gereja yaitu menjadi seorang Putra Altar atau Misdinar.
Setelah bergabung dimisdinar, aku semakin memiliki banyak teman dan saat itu aku tidak hanya memiliki teman dari satu angkatan di tahun itu saja, namun aku memiliki teman yang juga berbeda angkatan dariku. Saat awal dimisdinar, aku sangat terkejut sekali saat tahu bahwa ternyata teman-teman SD-ku yang dulu, sebagian besar dari mereka juga adalah misdinar. Aku merasa senang bisa bertemu mereka lagi dan menjadi satu keluarga dalam sebuah pelayanan. Namun bukan hanya mereka saja, ternyata dua sahabatku sejak kecil yaitu Albert dan Sella yang sudah 5 tahun tidak pernah bermain bersama lagi bahkan juga tidak bertemu, ternyata juga misdinar. Kami bertiga kembali bertemu dan dipersatukan lagi dikelompok pelayanan ini. Saat dimisdinar, aku merasa bahwa segalanya berubah, mulai dari perilaku ku, tindakanku, bahkan juga kebiasaanku dari yang buruk menjadi lebih baik. Bahkan sampai-sampai karena misdinar, aku bisa memiliki keinginan yang berbeda dari teman-temanku. Dulu aku memiliki cita-cita untuk menjadi seorang perwira TNI Angkatan Udara atau karena dulu aku memiliki nilai mata pelajaran IPA yang bagus, aku juga ingin menjadi seorang ilmuwan di badan antariksa NASA. Namun aku mengurungkan niatku dan aku ingin menjadi seorang pemimpin agama. Sungguh dimisdinar, aku berubah drastis dari segalanya.
Saat aku berada di kelas 6 SD, aku memiliki cerita yang agak menjengkelkan. Saat SD, aku sangat membenci salah satu temanku yang merasa sangat berkuasa dan paling hebat diantara teman-temanku. Lalu saat itu aku ingin melanjutkan pendidikanku di SMP PL Ambarawa, namun aku mengurungkan niatku karena ternyata teman yang aku benci juga akan masuk kesana. Kemudian aku memutuskan untuk melanjutkan ke SMP Stella di Salatiga agar aku tidak bertemu dengan teman yang aku benci. Setelah aku diterima di SMP Stella, aku sudah merasa lega selain sudah mendapatkan sekolah, aku juga akan berpisah dengan teman yang aku benci. Namun ternyata, dia yang aku benci juga mengurungkan niatnya untuk mendaftar ke SMP PL Ambarawa dan dia juga ternyata mendaftar ke SMP yang sama denganku. Aku mengira bahwa ini akan sangat menyebalkan, namun setelah lulus SD, kehidupan di SMP tidak seperti yang aku bayangkan. Tentunya selain memiliki teman yang berasal dari SD yang berbeda-beda, aku menjumpai teman-teman baru yang memiliki latar belakang dan keunikan masing-masing yang berbeda. Disitulah aku merasa bahwa memiliki teman itu bukan hanya dilihat dari perilaku buruknya lalu membencinya, tapi teman itu ada untuk saling melengkapi dan saling mengingatkan satu sama lain jika teman itu salah. Setelah 6 tahun lebih aku memiliki teman yang banyak, aku baru menyadari sebuah pertemanan yang sebenarnya.
Di awal SMP, aku memiliki target dan rencana yang cukup banyak untuk memastikan cita-cita yang aku harapkan sejak dimisdinar, namun semuanya berjalan tidak sesuai yang diharapkan. Aku menjadi pribadi yang baik, namun malas sekali ketika dihadapkan pada tugas-tugas yang diberikan guru.
Ada satu pengalaman di SMP yang tidak akan kulupakan dan akan selalu kuingat. Aku bersama teman-temanku membenci salah satu guru yang menganggap dirinya sok suci. Lalu suatu ketika saat pergantian jam pelajaran, guruku datang kekelasku namun belum sampai masuk, dia meninggalkan tasnya diluar kelas dan pergi entah kemana. Tiba-tiba dikepalaku muncul sebuah ide untuk menyembunyikan tas guruku. Akhirnya aku mengajak satu orang temanku untuk menyembunyikan tasnya bersama, namanya Bara.
"Bar, tas e umpetke yo." Ajakku, "ayo langsung wae.", jawabnya. Lalu kami menyembunyikan tas guru itu dan langsung masuk kekelas. Lalu guruku datang dan menanyakan dimana tasnya dan kami satu kelas menjawab tidak tahu lalu guruku pun pergi. Tanpa kami sadari, tindakanku dengan Bara ternyata terekam cctv disalah satu lorong ditempat kami menyembunyikan tasnya. Lalu guru kami kembali dan langsung meminta kami berdua ke ruang BK. Sungguh, bagiku itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan saat itu. Aku juga punya pengalaman cinta yang sangat menarik bagiku dan itu adalah pengalamanku.
Pengalaman cinta itu, bermula dari sebuah persahabatanku dengan seorang gadis. Dia adalah Sella, sahabatku sejak kecil. Waktu SMP, dia sudah berada satu tingkat di atasku. Saat itu aku sangat jatuh cinta dengannya dan berharap bisa mendapatkan hatinya. Lalu harapan itu benar terwujud, saat itu beberapa minggu menjelang Ujian Nasional SMP akan diadakan, aku menyatakan cintaku kepadanya, dia pun menerima dan aku sangat bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung dalam waktu yang lama karena ternyata dia akan melanjutkan pendidikan SMA diluar kota. Beberapa hari setelah dia Wasana Warsa, dia mengajakku untuk pergi kegereja dan bertugas misdinar bersama sebelum dia merantau. Setelah perayaan ibadat di gereja selesai, ternyata dia memintaku untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Dia mengatakan kalau dia tidak bisa menjalin hubungan yang sekarang biasa disebut 'Long Distance Relationship' yang dalam bahasa Indonesia berarti hubungan jarak jauh. Akhirnya aku pun mengakhiri hubungan dengannya namun tidak dengan persahabatan kami. Sungguh pengalaman cinta itu menjadi yang pertama kali untukku.
Saat akan tamat SMP, aku berkeinginan untuk melanjutkan diantara 3 sekolah favorit, namun ternyata di antara tiga tempat tersebut aku tidak lolos. Salah satunya yaitu seminari yang sudah menjadi targetku diawal SMP. Setelah itu aku bingung hendak melanjutkan kemana setelah lulus, akhirnya aku memilih SMA Virgo yang satu yayasan dengan SMP-ku yang juga bagus bagiku. Di SMA, aku memiliki banyak pengalaman yang tak terduga. Awal aku masuk SMA, aku sudah memiliki prestasi dengan kelompok paduan suara sekolah yang prestasinya juga sangat membanggakan. Aku juga memiliki pengalaman yang tidak pernah ku duga sebelumnya, yaitu menjadi wakil ketua OSIS. Awalnya aku membayangkan, dulu aku pribadi yang tidak bisa memiliki prestasi dan tidak memiliki pengalaman berorganisasi, kenapa sekarang di SMA aku menjadi aktif berkegiatan disekolah. Itu yang menjadi pertanyaanku sampai sekarang namun aku tetap mensyukuri apa yang diberikan Tuhan setelah aku mengalami kegagalan dalam menggapai targetku masuk seminari. Di SMA, pengalamanku tidak jauh berbeda dengan yang kurasakan saat SMP. Hanya saja aku merasa kurang akrab dengan teman-temanku di SMA karena aku jarang bermain diluar jam sekolah bersama mereka. Aku jadi kurang memiliki pengalaman bermain bersama mereka.
Selama 18 tahun waktu yang sudah berjalan ini, setiap harinya aku merefleksikan dan merenungkan segala tindakanku dan pengalaman yang sudah kulalui. Ternyata aku menemukan makna di balik siklus waktu yang terus berjalan ini. Kehidupan manusia itu hanya sementara di dunia ini, jadi aku harus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagiku. Siklus waktu kehidupanku ini mengajarkan banyak hal padaku melalui perantara orang-orang dan teman-teman yang ada disekitarku. Mengajarkan bahwa dalam keseharianku, aku harus selalu menggunakan hari ini untuk melukiskan kisah yang menarik di masa depan yang dapat menginspirasi orang dan menjadi kisah masa lalu yang dapat dikenang suatu saat nanti. Walaupun ada yang baik dan ada juga yang buruk, tapi aku harus selalu mengenang itu menjadi sebuah kisah klasik dimasa depan.
Komentar
Posting Komentar